Minggu, 05 Februari 2012

Undangan untuk Relawan SD IT Rabbani

Melihat antusiasme rekan-rekan yang masih peduli dengan dunia pendidikan, khususnya di negara kami RRC (Republik Rakyat Cimenyan) untuk turut serta menjadi bagian dari para pendidik.  Menimbang, Alhamdulillah untuk staf guru kelas sudah cukup :D. Maka kami memutuskan, semangat membara dari kakak-kakak sekalian akan disalurkan pada salurannya yang lebih bermanfaat. Menjadi relawan, pembimbing dan pendidik di kegiatan pembinaan minat dan bakat anak-anak didik kami.

Melihat ternyata, anak-anak kami memiliki kecerdasan natural yang menawan. Dari mulai pandai membuat kandang marmut, membuat pagar, membuat charger handphone, bermain sepak bola, sampai drama. Juga tambahan, aksi demonstrasi yang terus dilancarkan oleh anak-anak kami untuk mencarikan pelatih sepak bola dan pramuka.

So, dibuka kesempatan seluas kali lebar untuk kakak-kakak sekalian dalam investasi peradaban ini. Ada dua program yang kami buka selebar-lebarnya.
1. Program HoRe (Hours Express -maksa-) : program ini ditujukan bagi kakak-kakak yang tidak memiliki waktu luang cukup banyak. Sifatnya tentative, ditujukan bagi individu maupun komunitas jenis apapun yang bersedia berbagi ilmu dengan anak-anak kami (termasuk ibu gurunya :D). Ajuan program dapat dikoordinasikan dengan pihak sekolah. (Contoh : pelatihan komposting, pelatihan P3K, belajar memasak, dan lain-lain yang tidak tercantum dalam program club)
2.  Program X-Hours (Expression Hours) : program pengembangan bakat dan minat anak-anak didik kami. Serupa dengan ekstrakulikuler. Ditujukan bagi kakak-kakak yang memiliki waktu lebih luang untuk berbagi ilmu, karena sifatnya berkala. Dilaksanakan setiap hari sabtu selama satu semester. Berikut adalah club  yang tersedia di SD IT Rabbani, mangga dipilih-dipilih :
a. Azzurra (Apresiasi Seni, Sastra dan Drama) ditujukan untuk kelas 3, 4, dan 5
b. Calistung (Baca, Tulis, Hitung) ditujukan untuk kelas 1 dan 2 ataupun mereka yang dirasakan perlu
c. Boil (Bocah Ilmiah - Sains)
d. Laskar Gamara (Menggambar, Melukis dan kerajinan tangan lainnya)
e. Pramuka (entahlah nama yang tepat apa, karena mereka tidak punya baju pramuka. Mungkin tepatnya, kepanduan..percampuran pramuka dan pecinta alam :D)
f. Rabbani Eleven (Sepak Bola Rabbani)

Bagaimana caranya :

1. Isi form pada link ini : http://www.4shared.com/file/ydblfb4a/Form_Pendaftaran_Relawan.html

2. Kirim form'a ke : sekolah.rabbani@gmail.com




Siapa pahlawan sesungguhnya ?


“Optimisme menular….Ketulusan menggerakkan [Anies Baswedan]
Pesimisme ? menghancurkan” [Hesty Ambarwati]

SD IT Rabbani. 2 Tahun yang penuh liku, penuh warna, penuh kisah. Dari mulai ditinggalkan, sampai sempat meninggalkan. Jika semua orang terkagum-kagum tentang “mahasiswi, 22 tahun, menjadi kepala sekolah”, saya justru malu melihat tagline itu..haha. Betapa tidak, tugas saya tidak banyak di kelas, hanya sesekali menggantikan guru yang tidak hadir.  Tugas menyetorkan lembar C-1 kepada Kepala Sekolah SDN 1 Cimenyan yang tercinta seringkali tertunda, karena malas harus berbasa-basi setiap saat (haha-padahal kepala sekolahnya baik looh). Datang seringnya terlambat entah 15 menit sampai 2 jam. Senin sampai Jumat, mungkin saya hanya bisa hadir 4 atau 3 hari bahkan seminggu bisa jadi tidak datang sama sekali.  Menjadi kepala sekolah-pun bukan karena kompetensi yang dinilai luar biasa. Belum pula lulus S-1, mata kuliah Pengelolaan Pendidikan-pun seringnya bolos. Hanya penunjukkan bar-bar yang dilakukan disekotak kamar kosan dengan sang partner in crime (baca : Miss Anissa Trisdianty) didetik-detik penjajahan di sekolah itu.
Siapa Pahlawan Sesungguhnya?
Kami
Pahlawan sesungguhnya adalah Ibu-ibu guru yang bersumber dari dataran (RRC) Cimenyan sendiri. Ibu sekaligus guru yang telah sukses kami jebak ke dalam lingkaran pahala tak terputus ini. Tanpa iming-iming gaji setingkat UMR Jawa Barat (sepeserpun tidak kami janjikan). SD IT Rabbani benar-benar sekolah gratis, gratis muridnya, gratis gurunya (tapi Alhamdulillah, mereka tidak pernah demo ke jalan Tol menuntut kenaikan gaji). Entahlah, kepercayaan yang bersumber dari apa yang membuat mereka percaya pada kami, dua mahasiswi polos yang tidak mereka kenal sebelumnya.
Ialah Ibu Susilawati (bu uci), Ibu Titin, Ibu Nurul, dan Ibu Maisyah (bu ica). Mereka bukanlah sarjana-sarjana pendidikan, ibu-ibu pada umumnya (yang dua masih single tepatnya) yang luar biasa. Di tengah kesibukan mengurus anak, rumah dan suami mereka tetap memperjuangkan sekolah yang  tak bisa menjanjikan kesejahteraan financial.  Entah, semangat apa yang membuat mereka terus kembali meski seringkali dikecewakan.
Ibu-ibu guru luar biasa yang senantiasa berkata :
Guru bersama calon pemimpin
“Ibu, gaji kita itu yang  paling besar di antara sekolah yang lain. Gajinya langsung dari Allah”
“Ibu, sok hari kosongnya apa, nanti sisanya tidak apa-apa kami yang mengajar”
“Ibu, kita paling senang klo ibu-ibu (saya dan nisa) datang ke sekolah, walaupun sebentar, tapi kami jadi semangat”
“Ibu, kalau ibu sibuk, tidak apa-apa biar kami aja yang ke SD bawah”
“Ibu, kasihan anak-anak klo sekolah ini harus tutup lagi”
“Ibu, ada murid baru lagi. Kasihan kalau tidak diterima, nanti mau sekolah di mana lagi dia?”
"Ibu, ibu masih semangat kan? tidak akan meninggalkan kami kan?"
Ya. Mereka-lah pahlawan sesungguhnya. Tempat saya belajar tentang idealisme. Di tengah keterbatasan biaya hidupnya sendiri mereka masih peduli pada kelangsungan pendidikan anak-anak negeri Cimenyan. Mereka bukan orang-orang dengan rezeki yang berlimpah, terkadang saya harus mendapatkan seorang guru yang kehabisan beras di rumahnya.

Guru-guru yang keinginan belajarnya tinggi. Guru-guru yang menaruh harapan pada anak-anak kami sendiri.  Saya belajar tentang dorongan besar bernama kepedulian (dan ibadah tentunya) dari mereka. Teringat sebuah film yang sangat menginspirasi bernama Beyond the Blackboard, miss Stacey Bess berkata : “You don’t need  unusual skills,  You don’t need special training, You just have to care. Terima kasih telah berbagi, terima kasih telah membersamai, terima kasih telah memahami dan banyak memaklumi kami.
Ibu-ibu…kapan kita ngeliwet lagi [HA – 4 Februari 2012, lapar]

Karena ini matematika


Kondisi kelas 4 [Foto : Hesty Ambarwati]
SD IT Rabbani. Saya senantiasa gelisah saat melakukan proses pembelajaran di kelas. Saat itu, kelas empat sudah hampir seminggu selalu belajar matematika. Bukan berarti saya tidak peduli pada mata pelajaran lainnya. Saya hanya sedang gelisah pada kemampuan anak-anak untuk membaca soal, memahami maksudnya, menguraikan persoalannya, dan menyelesaikan soalnya berdasarkan ilmu yang pernah mereka dapatkan. Seminggu yang membuat mereka harus menangis darah mungkin. Seminggu yang kelam bersama deretan soal tentang menghitung keliling dan luas jajargenjang serta segitiga. Anak-anakku yang memiliki karakter gampang menyerah dan daya kompetisi rendah semakin menampakkan kesuraman pada wajahnya.
“Ibuuuuu….da hese” teriak mereka berkali-kali
Hari ke-2, saya mengajak mereka untuk membuat catatan kecil tentang rumus keliling dan luas jajargenjang serta segitiga. Saya menyediakan peralatan menggambar. Rumus saya tuliskan di depan dengan warna-warna yang atraktif. Tidak tanggung-tanggung saya pun menggambar, prestasi luar biasa untuk gambar saya yang abstrak.
“Ayo…sekarang kita buat catatan kecil untuk rumus-rumus itu, di buku catatan, buat semenarik mungkin. Pakai warna apa saja, gambar apa saja” ujarku.
Harap-harap cemas menanti mereka membuat catatan. Dan, merekapun sibuk menggambar, lalu lupa menuliskan rumusnya. Setelah saya ingatkan jangan lupa tulis rumusnya agar mudah diingat, barulah mereka menuliskan rumusnya dengan sangat indah. Sampai-sampai saya tidak mampu membaca dan memahaminya. Entahlah, mungkin mereka paham dengan catatannya sendiri.
Setelahnya, saya mengajak mereka senam otak terlebih dahulu. Jempol kanan keluar, kelingking kiri keluar. Jempol kiri keluar, kelingking kanan keluar. Begitu seterusnya sampai mereka berteriak.
“Ibu….heseeeeeee”
“Bisa kok, coba yang sudah bisa maju contohkan ke teman-temannya”
Seorang muridpun maju dengan malu-malu, mencontohkan pada muridnya. Ada harap di lubuk hati paling dalam, mereka termotivasi untuk juga bisa.
“Ibuuuuuuu….hese ah” dan sayapun diam.
“Awalnya mungkin sulit, tidak terbiasa, tapi coba deh dilakukan terus, terus dan terus…nanti jadi mudah kok. Begitupun dengan matematika, awalnya mungkin sulit, tidak bisa dan tidak terbiasa, tapi coba dilakukan terus menerus pasti mudah” ujarku.
Pelatihan 13
Saya pun mengajak mereka bermain detektif-detektifan. Dan mereka pun tidak terlalu bersemangat pada permainan itu -_-. Belum baca detektif conan ataupun Sherlock Holmes tampaknya. Yang berhasil dengan jawaban yang diharapkan oleh pembuat soal saya beri nilai 5 atas kebenaran dan keberaniannya, yang belum berhasil tetap mendapatkan nilai 2 untuk keberanian mereka. Sebelum mereka maju, mereka saya buat panas terlebih dahulu. Tidak dengan kayu bakar, tapi dengan perkalian.
“Ayo…hmmm….3 x 4…ngacung”
“12” Lisna menjawab
Ia pun maju ke depan, diikuti teman-temannya yang lain. Nerakapun bermula. Mereka ternyata biasa memecahkan soal dengan cara yang entah dari mana datangnya sayapun tidak mengerti, merekapun tidak mengerti. Mungkin kasusnya seperti saya dulu saat sekolah, mengkalikan, membagi, menambah, mengurangi angka-angka yang ada sampai ketemu angka yang salah satunya ada dalam opsi. Like teacher like student.
“Sekarang aturannya dirubah, soal yang ada dituliskan ke dalam : Diketahui (Dik), Ditanyakan (Dit), Jawab”
Saya hanya ingin mengajak mereka menghargai proses. Bermanfaat pula untuk menguraikan hal rumit. Namun di depan papan tulis mereka termangu.
“Ibu kumahaaaaa….hese ah…teu ngartosss” bahasa yang sama.
“Coba baca dulu soalnya, ibu mau dengar”
Merekapun membaca soalnya dengan lantang
“Ok, kira-kira dapat petunjuk apa saja dalam kasus itu?”
“Hah…maksudna naon bu?”
T_T
“Maksudnya, disana apa saja yang diketahui”
“Hah?”
“Ada angka apa saja di soal, coba bacakan”
“25”
“Apa katanya?”
“Alas”
“Nah…sekarang dituliskan di “Diketahui”, Alas = 25 cm, nah begitu seterusnya”
“Terus kumaha bu?”
Saya pun galau tingkat dewa “……”
“Oh enya….20 cm tingginya” celetuknya ringan
“Nah..sekarang apa coba yang ditanyakan?”
“Alas?”
“…….”
“Baca lagi coba soalnya sayangku”
“Berapa luas segitiga tersebut”
“Jadi?”
“Luas nya bu?”
“Pintar…nah itu bisa…gampang kan?”
Dan mereka pun berhasil menguraikan soal tersebut. Lalu berlanjutlah pada proses selanjutnya, memecahkan soal.
Mereka menuliskan “jawab” pada papan tulis.
“Trus kumaha bu cara ngerjakeunna?”
Nah loh saya pun semakin galau.
“Tadi apa yang ditanya? Luas segitiga kan ya? Coba cari rumusnya apa”
“Naon bu…da poho”
“Coba di buku catatan”
“Nu mana ibuuuuu”
“……”
“Oh enya…nu ieu”
Tangan kecilnya pun menuliskan L = ½ x a x t
“Terus kumaha bu?”
“Tinggal dimasukkin deh angka-angkanya”
Setelah 30 menit di depan papan tulis akhirnya mereka pun bisa mengerjakannya dengan gembira.
Esoknya, saya mengulangi hal yang sama. Dan akhirnya terpastikan, bahwa anak-anak lupa dengan proses yang kemarin. Kembali saya bimbing sambil bertanya dalam hati, “sampai kapan”.
Seminggu kemudian. Ulangan harian pun dilaksanakan. Soal yang pernah mereka kerjakan sendiri di papan tulis. Hanya lima soal. Dengan proses yang sama dan jawaban yang sama. Dan saya dapati wajah kelam kembali menghantui mereka saat mengerjakan soal-soal itu.
“Ibu..ah hese-hese teuing soal teeeeeh” teriak seorang anak
“Ibu…da poho rumusnaaaa…doh rumus luas jajargenjang teh naon nya” teriak yang lainnya
“Eh eta kelas tigaaaa…jalan-jalan di bawaaaaah” dan jadilah paduan suara. Merekapun terdistraksi.
“Ibu masih lama teu?”
“Masih 45 menit lagi”
“Doh…lila keneh…bu…atos nya..bae ah”
“Diusahakan dulu, Insya Allah ibu tetap kasih point kok untuk soal yang dikerjakan”
“Oh kitu ?”
Khusyu. Dan setelahnya merekapun mengumpulkan soal-soal tersebut. Setelah diperiksa, Alhamdulillah nilai mereka luar biasa beragam. 5, 4, 10, dan paling besar adalah 66 (Tapi jujur looh). Berat, karena saya tidak ingin mereka kecewa, lantas semakin tidak peduli, tidak percaya diri pada kapasitas dirinya sendiri.
Maafkan ibu nak, belum mampu membuatmu memahaminya dan menyenanginya. [HA - 5 Februari 2012]

Sabtu, 04 Februari 2012

Pendidikan berkualitas untuk semua


“Hanya orang kaya atau cerdas yang berhak memperoleh pendidikan berkualitas, yang bodoh dan miskin harus puas dengan kualitas seadanya”

Anak-anak pengukir sejarah [Foto: Hesty Ambarwati]
Mendidik peserta didik yang cerdas, dan berakhlak mulia ditambah kaya merupakan impian setiap pendidik. Pendidik tak perlu repot-repot menjelaskan materi di depan kelas, merekapun tak perlu menghabiskan tenaga dan hati untuk memberi pelajaran pada peserta didik yang senantiasa berbuat “ulah”.  Dunia pengajarannya begitu indah karena dipenuhi oleh peserta didik yang mampu berprestasi luar biasa. Deretan piala dan piagam penghargaan yang dihasilkan oleh anak-anak cerdas menghiasi kantor kepala sekolah, merupakan kebanggaan tersendiri untuk sebuah sekolah. Kelas terasa lebih hidup dengan anak-anak yang mengacungkan tangan, berebut menjawab pertanyaan. Guru konseling pun tidak harus kebanjiran “pasien” yang butuh penanganan khusus. Wali kelas tidak perlu repot-repot mendengar dongeng “ibu, maaf saya tidak punya uang”  setiap bulan atau awal semester  dari orang tua peserta didik, karena yang miskin namun pintar senantiasa dapat beasiswa, dan yang kaya namun biasa-biasa saja sudah lebih dulu memiliki uang. 

Kondisi serba memudahkan inilah yang membuat sekolah berlomba-lomba menyeleksi peserta didiknya, hanya dua pilihan, mendapatkan yang cerdas atau yang kaya. Dengan iming-iming tunjangan yang menyilaukan mata, guru-guru berkualitas berbondong-bondong mendatangi sekolah-sekolah berkualitas. Sekolah berkualitas senantiasa mendapatkan sorotan, sumbangan didahulukan, fasilitas sekolah ditingkatkan. Anak-anak cerdas semakin cerdas,  yang kaya bisa semakin kaya karena pendidikannya yang serba ada. 

Sekarang mari kita tengok golongan lain dari kumpulan peserta didik se-Indonesia. Ya, ialah golongan peserta didik yang dianggap tidak cerdas, tidak berakhlak, juga tidak kaya.  Golongan kelas 2 yang senantiasa termarginalkan. Nasib pendidikannya-pun tak jauh dari nasib hidupnya. Sekolah-sekolah kelas 2 dengan kualitas guru yang pas-pasan juga dengan gaji pas-pasan, fasilitas diada-adakan, dan tidak menjadi sorotan. Sekolah dengan tipe paling tragis se-Indonesia. Anak-anak mereka dianggap wabah yang menyebarkan masalah, dari mulai jejeran prestasi yang tidak dapat dibanggakan, prilaku yang tidak seperti manusia, keuangan yang minim, lesu pada hidupnya sendiri, senantiasa membuat keonaran, sampai pada wabah impoliteness. Guru konseling pun kebanjiran order, begitu banyak antrian pasiennya. Banyak guru menyatakan menyerah, dan peserta didik-pun menyerah pada hidupnya. Beragam kasusnya, guru mengundurkan diri atau peserta didik yang dipaksa mengundurkan diri.  Akhirnya yang tidak terdidik akan mendapat gelar tidak terdidik sepanjang hidupnya. 

Dikotomi pendidikan, semakin menggiring kita lupa pada hakikat pendidikan Indonesia juga janji kemerdekaannya. Preambule UUD 1945 menuliskan dengan jelas salah satu janji kemerdekaannya, yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”, bukan “mencerdaskan kehidupan warga Negara yang cerdas dan atau kaya”. Artinya, kita harus kembali pada hakikat tersebut, bahwa pendidikan merupakan hak bagi seluruh bangsa Indonesia tanpa terkecuali. Tidak hanya pendidikan seadanya, namun pendidikan yang berkualitas adalah hak setiap warga Negara Indonesia. 

Pendidikan merupakan perangkat kaderisasi negeri ini. Pemerintah harus menjamin bahwa setiap warga Negaranya mendapatkan pendidikan yang berkualitas agar melahirkan warga-warga Negara yang berkualitas. Sehingga mereka yang berkualitas inilah yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan, menjadikan peradaban negeri ini madani. 

Dan kita pun tak harus senantiasa menunggu pemerintah bergerak. Karena perubahan bisa kita lakukan di sekolah atau di kelas kita sendiri. 

Bukankah hakikat pendidikan adalah “membawa mereka dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang?”. Sebagaimana Rasulullah Saw mendidik Umar bin Khathab yang seorang preman hingga menjadi khalifah yang lembut hatinya. Sebagaimana Rasulullah Saw mendidik masyarakat Arab yang cinta dengan kejahiliyahannya menjadi masyarakat yang merdeka, maju disetiap lini kehidupan. Sebagaimana Rasulullah Saw mendidik semuanya tanpa terkecuali, tak mengenal kasta, karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Ya, manusia pada dasarnya baik hanya sedang tersesat, maka tugas kitalah untuk menjadikan mereka kembali pada hakikat kemanusiaannya. 

Konsep seperti inilah yang harusnya menjadi ruh bagi setiap pendidik. Bahwa yang nakal, yang bodoh dan yang miskin itupun harus merasakan manfaat pendidikan dari seorang pendidik yang berkualitas. Karena sesungguhnya, tidak ada peserta didik yang bodoh, nakal dan miskin. Mereka hanyalah peserta didik yang belum pintar, belum berakhlak baik dan belum kaya. Tugas kitalah dengan segala kepedulian membimbing mereka untuk menemukan cahayanya sendiri.  Itulah esensi pendidikan, proses terbaik yang dilakukan, bukan input terbaik yang diharapkan. Siapapun dan bagaimanapun inputnya sekolah harus melakukan proses terbaik untuk menghasilkan output terbaik. Dan kelak, pendidikan berkualitas menjadi hak setiap anak negeri. [HA - 4 Februari 2012]

Indonesia Mengajar (Mendidik) di Cimenyan


Apa yang membuat saya ada di SD IT Rabbani ? jawabannya adalah jebakan berkah dari Allah Swt. Bukan meneruskan sekolah yang sudah terakreditasi dengan kondisi siswa serba berlebih. Kami harus membangun mulai dari dua. Karena sudah memiliki bangunan dan peserta didik yang siap sekolah. Anak-anak didik yang jika kalian mendengar kisahnya, pasti tergerak hatinya untuk memerintahkan otak menitikkan air mata. Atau tergerak untuk menyelamatkan hidup mereka. 

Candra [Foto : Hesty Ambarwati]
SD IT Rabbani, hanya 45 menit dari geger kalong girang jika naik motor dengan kecepatan 60 km/jam dan kondisi jalan yang tidak macet. Dekat dengan Saung Udjo jika naik mobil F-1. Jalannya menanjak curam, delapan tanjakan yang harus dilalui untuk sampai di SD IT Rabbani. Setelahnya saya harus masuk ke dalam hutan dengan jalan yang hanya muat untuk satu mobil dan tanah liat. Hujan terkadang menjadi hal yang tidak kami harapkan disana. Jika hujan datang tanahnya berubah menjadi kubangan, berkuah dan licin. Sesekali saya hampir terjatuh, atau slip ban. Kaos kaki kotor, begitupun dengan alas kaki.  Itulah SD IT Rabbani yang terletak di Republik Rakyat Cimenyan (RRC). Mengapa demikian ? karena itulah kondisi sebuah desa dekat kota, dekat dengan pusat pemerintahan provinsi, namun masih sangat terbelakang. Ia seperti Negara yang berdiri sendiri, belum merdeka.

Memang tidak setragis laskar pelangi, jembatan Indonesiana Jones di Lebak, ataupun kisah para pengajar muda di Indonesia Mengajar. Namun, ia memiliki kisahnya sendiri, warnanya sendiri. Namun ia membuat saya tidak perlu berbondong-bondong bersama 10ribu pemuda lainnya mengikuti seleksi Indonesia Mengajar apalagi seleksi Girl Band. Karena Indonesia Mengajar (Mendidik) telah lebih dulu hadir di Cimenyan. 

Bermain bersama [Foto : Hesty Ambarwati]
Di sebuah bangunan yang juga tidak reot. Saya mendapati 31 anak dengan keunikannya masing-masing, dengan latar belakangnya masing-masing, dengan keperihan hidupnya masing-masing. 31 anak yang sangat senang bermain, berlebihan tenaga, terkadang jahil, namun sangat peduli pada teman dan adiknya, cinta sekolahnya namun tidak betah belajar. 31 anak yang tidak tahu dunia luar, terisolir di negaranya sendiri RRC. 31 anak dari keluarga yang tidak peduli pada kehadirannya. Bahkan satu anak yang tidak tahu siapa orangtuanya. Ada satu anak yang ditinggal pergi ayahnya dan tak kunjung kembali. Ada satu anak yang akan dijual oleh ibunya. 31 anak yang pemikirannya tidak semaju anak-anak kota di sekolah-sekolah favorit. 31 anak yang bingung memikirkan cita-cita. 31 anak yang belum memiliki ketertarikan pada ilmu dan mencari ilmunya sendiri. 31 anak yang masih bingung memahami maksud bacaan. 31 anak yang sulit berbahasa Indonesia. 31 anak dengan tawanya yang riang , dengan celetukan-celetukannya yang ringan, dengan kecerdasan alami yang menawan. 31 anak yang datang ke sekolah dengan sandal. 

Jika pada suatu kesempatan ada seseorang bertanya : “apa goalnya sekolah ini ?”. Saya pun ingin tersenyum simpul. Saya hanya ingin mereka merdeka. Saya hanya ingin mereka menemukan dirinya yang ternyata luar biasa. Saya ingin membuat mereka mencintai ilmu dan menjadi pembelajar sejati. Saya hanya ingin mereka sejahtera. Saya hanya ingin mereka menjadi bermanfaat bagi orang lain bagi bangsa. Saya hanya ingin mereka menjadi pemimpin. Saya hanya ingin mereka teguh memegang agamaNya. Saya hanya ingin mereka menjadi teladan dan inspirasi. Saya hanya ingin tetap bersama mereka selalu…seperti sekarang ini, menjadi guru juga murid bagi mereka. Maafkan ibu belum sempurna berarti bagi diri kalian. Ibu harus tetap berusaha.

Ada yang bilang : “Kok mau-maunya?”. Saya pun ingin tersenyum simpul. Kerja yang mapan, hidup mewah serba berkecukupan hanya batu-batu loncatan saja, untuk lebih bermanfaat bagi mereka. Saya hanya ingin menyalakan sebuah lilin di tengah gelapnya negeri ini. Saya hanya ingin berkontribusi walau sedikit untuk memenuhi janji kemerdekaan. Agar Ibu saya bangga masih melahirkan pejuang. Saya hanya sedang melakukan investasi untuk negeri ini. Melalaui Pendidikan. Sebelum pada akhirnya raga tidak lagi mampu melakukannya karena terjebak pada kedalaman tanah. 

Hai Pak Oemar Bakri…apa kabar ? [HA - 4 Februari 2012]

SD IT Rabbani di Salman ITB

Bismillah

Perjuangan itu kini tak lagi terasing. Bertemu dengan mereka yang sevisi membuat kami semakin bersemangat memperjuangkan SD IT Rabbani. Ya, idealisme memang harus dipertahankan dengan jalannya sendiri. Terima kasih Salman ITB.

 SD IT Rabbani, Hampir Bubar Namun Bangkit Lagi

Letaknya masih di Bandung, tepatnya di Kampung Balong, Kecamatan Cimenyan, beberapa kilometer saja dari saung tempat pusat kebudayaan angklung yang mendunia. Sebuah sekolah dengan bangunan bersahaja, SD Islam Terpadu Rabbani namanya. Menuju sekolah ini mestilah melewati jalan bertanah merah. Tak ayal saat musim hujan teras sekolah kotor oleh tanah-tanah basah dari jejak alas kaki.
“Murid-murid kami pakai sepatu Hari Senin saja, itu pun sudah susah payah dipaksa karena ada upacara, selebihnya pakai sendal,” ujar Susilawati (27) yang akrab disapa Bu Uci. Bu Uci adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal tidak jauh dari sekolah. Setiap harinya Bu Uci meluangkan waktu dari pagi hingga siang untuk mengajar di kelas 1.
Sehari-hari, bangunan dengan empat ruangan ini menjadi tempat belajar 32 orang siswa kelas 1 sampai 5 SD. Satu ruangan digunakan sebagai ruang guru dan kepala sekolah, tiga ruangan lain digunakan sebagai ruang kelas.
Jumlah siswa tiap kelasnya tidak lebih dari delapan orang. “Kelas 1 dan 2 di satu ruangan, kelas 4 dan 5 juga, kelas 3 sendiri,” kata Hesty Ambarwati (22), Kepala SD IT Rabbani. “Kalau gurunya ngajar patarik-tarik,” tambah mahasiswi Pendidikan Tata Boga UPI ini sambil tertawa.

Hampir Bubar
Pada awal berdirinya pada tahun 2002, sekolah ini makmur, muridnya banyak. Saat sekolah lain belum gratis, SD IT Rabbani ini sudah melaksanakan pendidikan gratis. Tidak heran banyak warga sekitar yang berasal dari kalangan menengah ke bawah menitipkan anak mereka di sekolah ini.
Suatu ketika terjadi perselisihan antara Kepala Sekolah dan pihak yayasan yang menyebabkan Kepala Sekolah tersebut dipindahtugaskan pada tahun 2008. Kemudian berturut-turut para pengajar pun meninggalkan sekolah ini. Tanpa adanya kepala sekolah dan guru, tidak bisa dihindari jumlah siswanya pun kian menyusut.
Tahun 2009 kegiatan belajar mengajar masih berjalan kendatipun tidak ada guru. Beberapa ibu rumah tangga yang peduli sekali waktu datang ke sekolah untuk mengajar sekenanya. Namun demikian hal itu masih dirasa kurang membantu.

Pengajar dan murid SD IT Rabbani di depan bangunan sekolah. (Foto oleh Hesty Ambarwati)

Diselamatkan Mahasiswa
“Kami datang ke sekolah ini pertengahan 2010. Saya ingat waktu itu hari Kamis. Hari Sabtunya pihak sekolah akan membagikan raport siswa sekaligus mengumumkan bahwa sekolah ini akan ditutup,” kisah Hesty. Dirinya mengaku mengetahui informasi tentang sekolah yang akan ditutup ini karena berjejaring dengan komunitas-komunitas peduli pendidikan.
Beberapa mahasiswa datang ke SD IT Rabbani untuk melakukan tindakan ‘penyelamatan’. Hal yang dilakukan pertama kali adalah dengan mengisi kekosongan guru. “Pas kita masuk anak-anak tidak siap dengan kultur sekolah, karena biasanya bebas, tidak ada guru,” kenang Anissa Trisdianti (22), Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI yang kini menjadi wali kelas 3.
Relawan dari pihak mahasiswa datang silih berganti untuk mengajar, namun sekarang mahasiswa yang menjadi guru tetap hanya tinggal Hesty dan Nissa saja. Di tengah kesibukan mengerjakan skripsi, kedua sahabat ini mengaku berat meninggalkan SD IT Rabbani terutama karena siswa-siswinya.
“Kami tahu sekarang kenapa Bu Muslimah begitu ingin mempertahankan anak muridnya,” ungkap Nissa yang juga pernah menjadi Kakak PAS ini.
“Sekarang kelas 4 dan 5 tidak ada wali kelasnya, saya biasa keliling ke kelas yang lagi kosong gurunya,” ungkap Hesty. “Jika ada yang bersedia datang mengajar kami akan senang sekali, tidak usah setiap hari, jadwal kami fleksibel,” tambahnya.
SD IT Rabbani kini bangkit kembali. Walaupun tanpa ada yang menggaji dan memiliki banyak keterbatasan, para pengajar tetap setia mengajar setiap hari.(Ditulis oleh : Maya Dewi Mustika)

Ini Link-nya : 
http://salmanitb.com/2012/01/sd-it-rabbani-hampir-bubar-namun-bangkit-lagi/


Tentang SD IT Rabbani


Anak-anak SD IT Rabbani [Foto : Hesty Ambarwati]


SD IT Rabbani didirikan pada tahun 2002 di bawah naungan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Al-Furqaan.  SD IT Rabbani merupakan SD gratis untuk anak-anak dari keluarga ekonomi lemah yang berada di daerah Cimenyan.

Selama perjalanannya SD IT Rabbani sebagai satu-satunya Sekolah Dasar Islam gratis di daerah Cimenyan mendapatkan respon yang cukup baik dari warga sekitar Cimenyan. Namun pada tahun 2010 SD ini terancam ditutup karena kekurangan SDM yang berimbas pada terhambatnya kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Dan pada tahun yang sama sekolah ini kembali berdiri dengan bantuan tenaga pengajar dari  Mahasiswa UPI dan beberapa warga Cimenyan yang peduli terhadap keberlangsungan pendidikan di sekolah ini. 

SD IT Rabbani tampil dengan jargon barunya, yaitu : Islamic, Fun and Meaningful Learning. Jargon inilah yang kemudian menjadi ruh dalam setiap proses pendidikan di sini. Menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi siswa-siswi SD IT Rabbani merupakan cita-cita kami. Pada Tahun Ajaran 2010/2011 SD IT Rabbani membuka 5 kelas dengan jumlah siswa : kelas 1 (5 siswa) ; kelas 2 (8 siswa) ;  kelas 3 (6 siswa, dengan 2 siswa berkebutuhan khusus) ; kelas 4 (6 siswa) ; kelas 5 (6 siswa) dan semua siswa berasal dari keluarga ekonomi lemah. 

SD IT Rabbani memiliki visi dan misi sebagai berikut : 

Visi

“Membentuk generasi Rabbani yang beriman, berkarakter akhlakul karimah,
berprestasi dan berkarya”

 Misi
  1.  Menggabungkan keimanan, ketakwaan dan ilmu pengetahuan melalui integralisasi nilai Islam pada tiap mata pelajaran
  2. Menciptakan iklim pembelajaran ramah, kreatif dan menyenangkan
  3. Mensinergiskan ilmu pembelajaran dengan potensi lokal alam sekitar
  4. Membangun dan mengemabangkan potensi kecerdasan anak agar siap menjadi generasi unggul yang sesuai dengan tuntutan masa depan